Minggu, 13 Januari 2013

PROPOSAL METODE PENELITIAN KUALITATIF

 Proposal ini dibuat sebagai tugas Ujian Akhir Semester VII pada mata kuliah Metodologi Penelitian Komunikasi Kualitatif

Resepsi Khalayak Ibu-ibu Rumah Tangga desa Candi - Sidoarjo terhadap Program Acara Reality Show “Master Cheff” di Indosiar
Oleh:
AANG KUNAIFI
NIM. 08.20220.00015
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO
2013

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Media massa televisi merupakan suatu sarana yang sangat efektif dalam mempengaruhi pola pikir manusia. Manusia memperoleh tambahan pengetahuan, informasi terkini dari belahan bumi lainnnya dengan cepat, serta insipirasi salah satunya adalah akibat dari peranan televisi. Televisi sebagai suatu media massa mempunyai peranan yang penting dalam memudahkan masyarakat untuk mendapat informasi yang dibutuhkan.
Media massa adalah alat yang biasanya digunakan dalam penyampaian pesan dari sumber kepada khalayak (penerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperti surat kabar, film, radio dan televisi (Cangara, 2003:134). Hingga detik ini media massa masih menjadi penentu atau pencetus sebuah opini publik yang ada di masyarakat. Media mampu menjangkau masyarakat luas (khalayak) untuk menikmati sajian pesan / berita atau program yang di tampilkan.
Televisi, sesuai dengan fungsinya untuk mempengaruhi pemirsanya, diharapkan mampu memberikan pencerahan dan inspirasi baru bagi semua khalayklnya, salah satunya adalah khalayak ibu-ibu rumah tangga.
Belakangan ini sering kita jumpai di berbagai stasiun televisi yang menyajikan tayangan reality show yang menyajikan beragam tema dan tampilan. Dari beberapa program acara reality show yang kini taynag di stasiun televisi nasional Indonesia, peneliti tertarik untuk menganalisis tayangan paling menyegarkan dan fenomenal di tahun ini yang dipersembahkan oleh FremantleMedia dan RCTI, MasterChef Indonesia. Sebuah ajang adu kemampuan memasak bagi semua kalangan untuk menemukan the first Master Chef Indonesia. Ada beberapa alasan peneliti memilih program acara tersebut, diantaranya:
  1. pada observasi awal yang peneliti lakukan kepada sebagian ibu-ibu rumah tangga di desa Candi Sidoarjo, yang menjadi narasumber sementara, didapatkan hasil bahwa sebagian besar pernah dan suka menonton tayangan tersebut dengan beragam alasan.
  2. program acara tersebut menampilkan adu kemampuan memasak bagi semua kalangan,sehingga seharusnya mampu memberikan inspirasi bagi audiensnya.
  3. ditayangkan setiap hari pada pukul 16.30 sore, jam tayang tersebut memberikan ruang dan waktu yang cukup banyak bagi ibu-ibu untuk menonton tayangan tersebut.
  4. tayangan dengan durasi yang cukup lama (sekitar 60 menit atau 1 jam) seharusnya membuat pemirsanya puas dengan isi atau content acara tersebut.
Salah satu standar untuk mengukur khalayak media adalah menggunakan reception analysis, dimana analisis ini mencoba memberikan sebuah makna atas pemahaman teks media dengan memahami bagaimana karakter teks media dibaca oleh khalayak. Reception analysis disini meliputi persepsi, pemikiran, preferensi dan interpretasi. Persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. (Jalaluddin, 2004:51). Pemikiran didefinisikan sebagai perbuatan individu dalam menimbang-nimbang, menguraikan, menghubung-hubungkan sampai akhirnya mengambil keputusan. Preferensi yaitu semua ungkapan emosi individu yang menyertai pemikiran persepsi kita dalam menerima pesan, apakah pemirsa menyukai program berita tersebut atau tidak. Interpretasi merupakan sebuah istilah untuk menjelaskan bagaimana kita memahami pengalaman.
Berdasarkan uraian diatas maka peneliti terdorong untuk mengadakan penelitian mengenai resepsi khalayak ibu-ibu rumah tangga terhadap program acara reality show ”Master Cheff” di Indosiar.
1.2 Perumusan Masalah
Dari uraian latar belakang masalah dia atas, maka dapat dirumuskan masalah bagaimanakah resepsi khalayak ibu-ibu rumah tangga terhadap program acara relaity show ”Master Cheff” di Indosiar?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resepsi khalayak ibu-ibu rumah tangga terhadap program acara relaity show ”Master Cheff” di Indosiar.
1.4 Luaran Yang Diharapkan
Hasil luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah terwujudnya karya ilmiah tentang resepsi khalayak ibu-ibu rumah tangga terhadap program acara relaity show ”Master Cheff” di Indosiar.
1.5 Manfaat Penelitian
1.5.1 Secara Teoritis
Untuk memperluas wawasan dan memperdalam pemahaman mengenai bidang kajian komunikasi media massa dan riset khalayak
1.5.2 Secara Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi media televisi mengenai pengembangan/improvisasi tayangan reality show yang membawa pencerahan bagi audiensnya.
1.5.3 Secara Sosial
Hasil penelitian ini diharapkan dapat membuka mata masyarakat khususnya kalangan ibu-ibu rumah tangga mengenai tayangan yang bernilai positif dan bermanfaat bagi masyrakat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
2.1.1 Reception Analysis Pemirsa Terhadap Peran Media dalam Pendidikan Politik Bagi Perempuan pada Pemilu 2009 (Studi Reception Analysis Aktivis Perempuan Sidoarjo Kecamatan Kota Terhadap Program Acara Headline News METRO TV)
Oleh: Mitha, Arytas (2009)
Penelitian ini terfokus pada apa dan bagaimana peranan media massa dalam pendidikan politik bagi perempuan di Sidoarjo. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bagaimana peran Program Berita Headline News METRO TV dalam pendidikan politik bagi perempuan. Peneliti dengan ini menyimpulkan bahwa peran Program Berita Headline News METRO TV adalah sebagai berikut :
1. Program Berita Headline News METRO TV memberikan informasi, pengetahuan, serta wawasan tentang perkembangan politik yang ada.
2. Program Berita Headline News METRO TV merupakan media sosialisasi politik dan partisipasi politik perempuan, mengingat pemilih perempuan sangat bervariasi.
3. Para audiens (aktivis perempuan) menganggap bahwa pendidikan politik itu sangat penting bagi perempuan, mengingat dari beberapa kasus kehidupan, perempuan masih terdapat kurang kesetaraan dan keadilan gender.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dalam mengurai dan menjelaskan fenomena dan fakta di lapangan. Lokasi penelitian ini adalah aktivis perempuan di Sidoarjo.
Key Words: Media, Politik, dan Perempuan
( Sumber: Aryas Mitha Iswahyuni, Reception Analysis Pemirsa Terhadap Peran Media dalam Pendidikan Politik Bagi Perempuan pada Pemilu 2009, Skripsi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, 2009)
2.1.2 Penerimaan Khalayak Ibu Rumah Tangga terhadap Serial Desperate Housewives di Televisi).
Oleh Anggraini, Ane Kusuma. (2006)
Drama komedi merupakan jenis komedi situasi yang paling jarang, jumlahnya kurang lebih hanya 1 persen dari seluruh judul komedi situasi yang pernah ditayangkan. Hal tersebut dikarenakan tingkat kesulitan dalam memproduksinya. Meskipun drama komedi kalah dalam kuantitas, namun dari segi kualitas sudah tidak diragukan lagi. Berbagai judul drama komedi seringkali menjadi sangat populer dengan menempati peringkat atas dan rating yang tinggi dalam riset AC Nielsen di Amerika.
Penerimaan khalayak ibu rumah tangga dalam memahami dan memaknai drama komedi Desperate Housewives di televisi, ternyata bervariasi. Penerimaan tersebut meliputi:
1. Partisipan mempersepsi drama komedi Desperate Housewives sebagai tayangan yang menarik dan belum pernah ditayangkan sebelumnya. Beberapa partisipan mengungkapkan unsur-unsur drama komedi seperti, tema, karakter, serta setting dalam mendefinisikan tayangan ini.
2. Beberapa partisipan mengungkapkan bahwa drama komedi ini lebih banyak membahas konflik yang dialami tokoh utama. Secara detil beberapa partisipan menyebutkan konflik percintaan yang dialami beberapa karakter melanggar batasan norma.
3. Partisipan mengemukakan pendapatnya masing-masing mengenai karakter ibu rumah tangga dan beberapa memiliki karakter yang paling disuka. Karakter yang ideal dalam hal ini tidaklah selalu menjadi favorit partisipan.
4. Sosok ibu rumah tangga yang baik menurut beberapa partisipan adalah ibu rumah tangga yang mampu mengurus rumah dan keluarga. Nilai lebih akan didapat jika ibu rumah tangga tersebut bekerja atau memiliki kesibukan. Beberapa partisipan merasa bahwa selama ini perlakuan di masyarakat baik-baik saja, terkait perannya sebagai ibu rumah tangga.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dalam mengurai dan menjelaskan fenomena dan fakta di lapangan. Lokasi penelitian ini adalah ibu-ibu rumah tangga Surabaya.
Key Words: Televisi, Ibu Rumah Tangga
( Sumber: Ane Kusuma Anggraini, Penerimaan Khalayak Ibu Rumah Tangga terhadap Serial Desperate Housewives di Televisi, Skripsi, FISIP Universitas Airlangga, Surabaya, 2006)
Orisinalitas Penelitian
Tabel Perbandingan
Penelitian terdahulu dengan Penelitian sekarang
No
Nama
Judul
Thn.
Metode
Hasil
1.
Aryas Mitha Iswahyuni
Oleh -
Reception Analysis Pemirsa Terhadap Peran Media dalam Pendidikan Politik Bagi Perempuan pada Pemilu 2009
2009
Deskriptif-Kualitatif
Mengetahui peranan media dalam pendidikan politik perempuan
2.
Ane Kusuma Anggraini
Penerimaan Khalayak Ibu Rumah Tangga terhadap Serial Desperate Housewives di Televisi,
2006
Deskriptif-Kualitatif
Mengetahui penerimaan ibu-ibu rumah tangga terhadap tayangan produksi Amerika bertema kehidupan rumah tangga
Dari dua judul penelitian tersebut, peneliti membuat penelitian dengan fokus atau tema yang serupa yakni mengenai penerimaan perempuan terhadap tayangan acara televisi, dan dengan metode dan pendekatan yang sama yakni menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode reception analysis (analisa penerimaan pemirsa televisi pada program acara di televisi). Namun, ada pembeda di antara dua penelitian terdahulu tersebut dengan penelitian yang akan dilakukan sekarang ini yakni pada jenis tayanganna. Jika pada penelitian Aryas menitikberatkan pada tayangan news atau berita, dan pada penelitian Ane adfalah serial televisi, maka pada penelitian ini memilih tayangan atau program acara berjenis reality show untuk dikaji lebih mendalam.
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Teori Komunikasi Massa (Televisi)
Komunikasi Massa menurut para ahli adalah komunikasi melalui media massa. Sedangkan komunikasi Joseph A. Devito dalam bukunya, Communicology : An Introduction to the study of communication. Menyatakan bahwa komunikasi massa :
First, mass communication is communication addressed to the masses, to an extremiley large audience. This does not mean that the audience includes all people or that is large and generally rather poorly difined.
Second, mass communication is communication is perhaps most easily and most logically defined by it form : Televison, radio, news, paper, magazine, film, books and tapes.
Pertama, komunikasi massa adalah komunikasi yang ditujukan pada massa, kepada khalayak yang luar biasa banyaknya. Ini tidak berarti khalayak meliput seluruh penduduk atau semua orang yang membaca atau semua orang yang menonton televisi, agaknya ini berarti bahwa khalayak itu besar pada umumnya agar sukar di definisikan.
Kedua, komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar yang audio atau visual komunikasi. Barangkali akan lebih mudah dan lebih logis bila di definisikan menurut bentuknya : televise, radio, majalah, film, buku dan pita.
(dalam buku Theories Of Human Communication Littlejohn, 1999)
2.2.2 Media Massa Televisi
Komunikasi massa media televisi ialah proses komunikasi antara komunikator dengan komunikan (massa) melalui sebuah sarana, yaitu televisi. Komunikasi massa media televisi bersifat periodik. Dalam komunikasi massa media tersebut, lembaga penyelenggara komunikasi bukan secara perorangan, melainkan melibatkan banyak orang dengan organisasi yang komplek serta pembiayaan yang besar karena media televisi bersifat “transitory” (hanya meneruskan) maka pesan-pesan yang disampaikan melalui komunikasi massa media tersebut, tidak hanya dapat di dengar tetapi juga dapat dilihat dalam gambar yang bergerak (audiovisual) (JB. Wahyudi, Komunikasi Jurnalistik, 1991).
Televisi mempunyai sebuah sifat yang istimewa, televisi merupakan gabungan dari dengan dan gambar atau yang lebih dikenal dengan audio dan visual. Sebagai media massa, televise memiliki ciri-ciri berlangsung satu arah, komunikatornya melembaga, pesannya bersifat umum dan menimbulkan keserempakan (Pareno, 2002:102). Dengan kekuatannya yang audio visual, ia mampu mempengaruhi kehidupan manusia, baik dari segi politik, sosial dan budaya (Russel, Verril dan Lane, 1988:173 dalam Komunikasi Politik: Komunikator, Pesan dan Media, Dan Nimmo, 1999.).
“sejak diperkenalkan sebagai media nasional pada awal 50-an, TV telah berubah menjadi sebuah institusi. Untuk memahami tentang televise, ia haruslah di pandang sebagai sebuah fenomena social. Lebih dari sebuah media untuk periklanan dan hiburan, televise memiliki kemampuan untuk merubah cara kita berinteraksi dengan orang lain sejalan dengan bagaimana kita melihat dunia yang berada di sekeliling kita”
Karena itulah televisi sangat bermanfaat sebagai upaya pembentukan sikap perilaku dan sekaligus perubahan pola berfikir, termasuk dalam hal penanaman suatu pemahaman tertentu.
Fungsi televisi sama dengan fungsi media massa lainnya. Pada intinya televisi memiliki tiga fungsi utama yaitu :
1. Fungsi Penerangan/informasi, sebagai sarana yang efektif dalam menginformasikan segala berita kepada khalayak
2. Fungsi Pendidikan, disadari ataupun tidak televisi mempunyai pengaruh yang tidak kecil dalam memberikan pengetahuan tambahan kepada khalayak luas mengenai berbagai hal
3. Fungsi Hiburan, tentunya suatu media yang mudah dan murah dalam dalam upaya kita mendapatkan hiburan karena isi dari televisi tidak seluruhnya berita
2.2.3 Program Berita Televisi
Setiap harinya, televisi menyajikan berbagai jenis program yang jumlahnya sangat banyak dan jenisnya beragam. Pada dasarnya apa saja dapat dijadikan sebagai program, yang penting adalah disukai oleh audiens, tidak bertentangan dengan norma kesusilaan, hukum, dan peraturan yang berlaku.
a. Program Informasi Berita
1) Berita keras (hard news) atau straight news, yaitu segala informasi yang penting dan menarik yang harus segera disiarkan oleh media penyiaran karena sifatnya harus segera diketahui oleh khalayak.
2) Berita lunak (soft news) adalah segala informasi yang penting dan menarik yang disampaikan secara mendalam (indepth) namun tidak bersifat harus segera ditayangkan.
b. Program hiburan (entertainment)
2.2.4 Pemirsa (khalayak)
Setiap proses komunikasi selalu ditujukan kepada pihak tertentu sebagai penerima pesan yang disampaikan oleh komunikator. Menurut (Nasution, 1993:20) dalam sosiologi komunikasi massa, penerima adalah mereka yang menjadi khalayak dari media massa yang bersangkutan, dimana khalayak tersebut di atas bersifat luas, heterogen dan anonim.
2.2.5 Ibu Rumah Tangga sebagai Khalayak Televisi
Havighurst (dalam Haditono 1991) mengemukakan bahwa perjalanan hidup seseorang ditandai oleh adanya misi yang harus dapat dipenuhi. Misi ini dalam batas-batas tertentu bersifat khas untuk masa-masa hidup seseorang yang selanjutnya disebut sebagai misi perkembangan yaitu misi yang harus dilakukan oleh seseorang dalam masa-masa hidup tertentu sesuai dengan norma-norma dalam masyarakat serta norma-norma kebudayaannya. Salah satu misi perkembangan yang harus dilalui oleh seseorang dalam masa dewasa adalah menemukan teman hidup dan mulai membentuk keluarga dalam ikatan pernikahan.
Pernikahan di Indonesia sarat akan nilai-nilai yang telah lama ada dikondisikan dalam budaya patriarkhi. Kondisi agama, budaya dan lingkungan sekitar membuat perempuan “wajib” memasuki wilayah pernikahan.43 Perempuan yang telah menikah (ibu rumah tangga) memiliki beragam peran yang erat kaitannya dengan kebudayaan di mana ia berada dan kedudukannya dalam keluarga dan masyarakat. Pada umumnya perbedaan
perempuan dan laki-laki dalam berbagai hal. Bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di negara-negara lain di dunia, perempuan seringkali menghadapi permasalan umum yang
sulit dijelaskan. Permasalahan yang dihadapi oleh perempuan umumnya berkaitan dengan peran perempuan.
Pergerakan perempuan mulai bermunculan untuk menyatakan ketidaksetujuan terhadap penindasan, diskriminasi dan eksploitasi yang dialami perempuan dalam kehidupannya. Pandangan ini dinamakan sebagai feminisme, yang merasa bahwa system dan struktur sosial yang timpang dan tidak adil perlu direkonstruksi kembali sehingga terbentuk kesetaraan dan keadilan dalam kehidupan masyarakat. Gerakan ini mencapai puncaknya pada tahun 1960an hingga 1970an.
Di Indonesia, pergerakan semacam ini ditandai dengan munculnya Ibu Kartini yang memperjuangkan hak-hak perempuan agar setara dengan laki-laki dalam pendidikan dan berbagai hal lainnya. Sebelumnya, perempuan dipingit di rumah, dipersiapkan melayani suami dan mengasuh anak. Kehidupan perempuan seperti dipenjara, berpindah dari sel tempat ia dilahirkan ke sel lain setelah menikah sehingga menimbulkan merasa jenuh dengan kehidupannya.
Betty Friedan mengungkapkan bahwa perempuan mengalami permasalahan yang
sulit diungkapkan, tetapi dirasakan oleh perempuan pada umumnya. Hal ini merupakan suatu krisis yang disimpulkan sebagai berikut :
1. Perempuan mempertanyakan “kewanitaannya”, peran sebagai seorang perempuan.
2. Perempuan tidak puas dengan perannya di “penjara” maupun di “sangkar emas”.
3. Perempuan menginginkan pengakuan.
Adanya pergerakan tersebut membuat perempuan, khususnya yang telah menikah
yaitu ibu rumah tangga, dapat menempuh pendidikan setinggi-tingginya dan bekerja di dalam maupun di luar rumah sesuai dengan kemampuannya. Hal ini menarik kesadaran mereka untuk mengaktualisasikan diri dengan bekerja atau aktif dalam kegiatan social kemasyarakatan. Sehingga, peran ibu rumah tangga pun berubah, dari yang hanya berkutat di sektor domestik saat ini juga berperan dalam masyarakat.
Ibu rumah tangga dapat dibedakan sebagai berikut :
1. Ibu rumah tangga biasa, tidak memiliki kesibukan selain kegiatan rumah tangga.
2. Ibu rumah tangga yang bekerja paruh waktu dan/atau aktif dalam kegiatan lain
(sosial).
3. Ibu rumah tangga yang bekerja full-time dan/atau aktif dalam kegiatan lain (sosial).
Ibu rumah tangga masih merupakan khalayak potensial terbesar bagi televisi. Sebelumnya khalayak ini dibidik karena posisinya sebagai penentu pembelian produk yang diiklankan televisi dan lebih banyak di rumah mengerjakan pekerjaan domestik sambil ‘menonton’ televisi (Nielsen Media Research, Media Index 2004).50 Saat ini ibu rumah tangga yang aktif di luar rumah juga dianggap berpotensi. Kebutuhan mereka akan hiburan dan informasi sepulang beraktivitas menjadi potensi tersendiri bagi televisi.
Konteks sosial khalayak berperan penting dalam proses penerimaan. Dalam hal ini
perempuan dalam kondisi sosial yang mengabdi pada suami dan keluarga merasa bahwa
dengan membaca novel maka mereka memiliki ruang tersendiri. Mereka membaca novel roman sebagai pengakuan atas hak-hak dan harga diri mereka, sehingga mendapatkan kepercayaan diri agar lebih berani dalam menghadapi tuntutan suami (keluarga) dan mengemukakan keinginannya atas posisi yang seimbang dalam perkawinan maupun keluarga. ( Sumber: Ane Kusuma Anggraini, Penerimaan Khalayak Ibu Rumah Tangga terhadap Serial Desperate Housewives di Televisi, Skripsi, FISIP Universitas Airlangga, Surabaya, 2006)
2.2.6 Teori Reception Analysis
Analisis Penerimaan dan Negosiasi Makna
Teori Reception Analysis mengatakan bahwa teks dan penerima adalah elemen yang saling melengkapi dalam satu areal penelitian. Menurut Klaus Bruhn Jensen (2003:135) reception analysis bisa diasumsikan tidak akan ada efek tanpa adanya makna (there can be no effect without meaning).
(Sumber: /jiunkpe/s1/ikom/2009/jiunkpe-ns-s1-2009-51405078-11785-sariwangi-chapter3.pdf)
Analisis penerimaan menggunakan kombinasi pendekatan humanistik sebagai teorinya dan ilmu sosial sebagai metodologinya. Pendekatan humanistik memandang komunikasi massa sebagai proses kultural produksi dan penyampaian pesan dalam sebuah konteks sosial. Sedangkan ilmu sosial menjelaskan penggunaan pertanyaan empiris tertentu sebagai proses interaksi pesan media massa dengan khalayaknya.
In two words, reception analysis assumes that here can be no “effect” without “meaning”
John Fiske dan Michael de Certeu (1989 : 74) mengungkapkan bahwa dalam Reception Analysis, khalayak dilihat sebagai produsen aktif yang memberikan makna, bukan sebagai konsumen media. Pemaknaan teks media, dalam penelitian ini yaitu televisi, oleh khalayak berkaitan dengan kondisi sosial dan kulturalnya, serta pengalaman individu tiap khalayak. Mereka menguraisandikan teks media dengan cara-cara yang selaras dengan kondisi sosial dan budayanya serta cara-cara yang mereka jalani secara pribadi. Berkembang pada awal hingga pertengahan 1980-an metode ini berpijak pada pandangan bahwa khalayak bersifat aktif dan adanya gagasan “penolakan” terhadap isi teks atau teks media. Seperti yang diungkap Fiske:
A text is the site of struggles for meaning that reproduce the conflicts of interest between the producers and consumers of the cultural commodity. A program is produced by the industry, a text by its reader.
(Teks adalah tempat pertarungan makna yang menghasilkan konflik kepentingan di antara produsen dan konsumen dari komoditas kebudayaan. Program di produksi oleh industri, teks diproduksi oleh pembaca).
(sumber: http://www Reception analysis.shef.ac.uk/1999)
Paradigma khalayak aktif televisi dalam tradisi cultural studies dapat disimpulkan sebagai berikut :
• Khalayak dikonsepsi sebagai produsen makna yang bersifat aktif dan berpengetahuan luas, bukan produk dari teks yang terstruktur.
• Makna terikat oleh cara teks distrukturkan dan oleh konteks domestik serta konteks budaya dalam menonton
• Khalayak televisi perlu dipahami, bahwa mereka menonton televisi dalam konteks konstruksi makna dan rutinitas sehari-hari.
• Khalayak dapat dengan mudah membedakan antara fiksi dengan realitas: mereka benar-benar aktif dalam memainkan batasan-batasannya.
• Proses konstruksi makna dan kegiatan menonton televisi sebagai dalam rutinitas sehari-hari, bergeser dari kebudayaan satu ke kebudayaan lain dan berubah dari konteks kelas dan gender di dalam komunitas budaya yang sama.
Stuart Hall mengkonsepsi proses encoding televisi sebagai peneguhan momen – momen produksi, sirkulasi, distribusi, reproduksi, yang saling berhubungan namun berbeda. Tiap momen memiliki praktik spesifik, tetapi hal tersebut tidak menjamin momen berikutnya. Artinya, produksi makna tidak menjamin konsumsi makna sesuai dengan keinginan pengode. Pesan-pesan televisi dikonstruksi sebagai sistem tanda dengan komponen yang beraneka ragam yang dapat mengandung berbagai makna dan dapat diinterpretasi dengan cara yang berbeda-beda.
Khalayak dalam hal ini dikonsepsikan sebagai individu yang memiliki kondisi sosial dan budaya yang beragam dan pemaknaan atas suatu pesan dapat berbeda-beda, sesuai dengan kondisi khalayak tersebut. Khalayak yang berbagi kode budaya dengan pengode/produsen pesan, maka akan mendekode pesan dalam kerangka yang sama. Lain halnya jika khalayak berada dalam kondisi sosial dan budaya yang berbeda (misal: kelas, ras, gender), maka khalayak akan memiliki alternatif dalam mendekode pesan. Model encoding-decoding Hall memberikan tiga posisi khalayak dalam menerima pesan, antara lain :
• Dominan-hegemonik → khalayak menerima ‘makna yang dikehendaki’ (preferred meaning)
• Negosiasi → mengakui adanya legitimasi kode hegemonik secara abstrak namun khalayak membuat aturannya sendiri dan beradaptasi sesuai dengan situasi sosial tertentu.
• Oposisional → khalayak memahami encoding (pesan), namun menolaknya dan men-decode (memaknai pesan) dengan cara sebaliknya.
(sumber: Ane Kusuma Anggraini, Penerimaan Khalayak Ibu Rumah Tangga terhadap Serial Desperate Housewives di Televisi, Skripsi, FISIPUniversitas Airlangga, Surabaya, 2006)
Salah satu cara untuk mengukur khalayak media adalah dengan menggunakan reception analysis, dimana analisis ini berusaha memberikan sebuah makna atas pemahaman atas teks. Media (elektronik, cetak, maupun internet) dengan memahami bagaimana karakter teks media dibaca oleh khalayak. Konsep terpenting dalam reception analysis adalah bahwa teks media bukanlah makna yang melekat pada teks media tersebut, tetapi makna diciptakan alam interaksinya antara khalayak dan teks, dengan kata lain ”makna diciptakan karena menonton atau membaca dan memproses teks media”. (Hadi, 2008:2).
Pendekatan reception analysis berfokus pada penerimaan pesan-pesan media oleh anggota khalayak dan interpretasi-interpretasi yang dimiliki oleh khalayak mengenai isi media. Dengan cara ini, peneliti dapat mengungkapkan sampai sejauh mana interpretasi khalayak terhadap isi media.
Reception analysis merupakan kritik terhadap analisis isi kuantitatif dan penelitian khlayak mengenai output, penggunaan dan efek media yang sangat di pengaruhi oleh perpektif ilmu. Pendekatan-pendekatan yang bersifat kuantitaif ini, dipandang kurang sensitif dalam menginterprestasikan data, sehingga penilaian yang akurat mengenai sifat dan tingkatan pengaruh media tidak tercapai.
BAB III
KONSEPTUALISASI PENELITIAN
Hampir sama dengan penelitian-penelitian dengan menggunakan analisis khalayak (resepsi/penerimaan) lainnya, konseptualisasi penelitian berawal dari suatu acara yang kemudian bagaimana acara tersebut diterima oleh khalayak yang kemudian akan diinterpretasikan olehnya melalui empat hal yang menjadi dasar dari Reception analysis disini meliputi persepsi, pemikiran, preferensi dan interpretasi. Persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. (Jalaluddin, 2004:51). Pemikiran didefinisikan sebagai perbuatan individu dalam menimbang-nimbang, menguraikan, menghubung-hubungkan sampai akhirnya mengambil keputusan. Preferensi yaitu semua ungkapan emosi individu yang menyertai pemikiran persepsi kita dalam menerima pesan, apakah pemirsa menyukai program berita tersebut atau tidak. Interpretasi merupakan sebuah istilah untuk menjelaskan bagaimana kita memahami pengalaman.
Kemudian dari pemahaman sehingga lahirlah suatu pemaknaan atau interpretasi dari khalayak akan timbul suatu penilaian atas teks atau pesan yang diterimanya. Penilaian atau penerimaan positif atau negatifkah, sangat bergantung pada bagaimana khalayak menginterpretasikan pesan yang ada. Keduanya, penerimaan positif maupun negatif, adalah merupakan intisari dari analisis ini. Konseptualisasi di atas dapatlah kita jabarkan atau kita desain dengan baganisasi/tabelisasi sebagai berikut:









BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
4.1 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dimana penelitian ini menggunakan data deskripstif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Bogdan dan Taylor, 1975:5). Penelitian kualitatif daris sisi definisi lainnya dikemukankan bahwa hal itu merupakan penelitian yang memanfaatkan wawancara terbuka untuk menelaah dan memahami sikap, pandangan, perasaan dan perilaku individu atau sekelompok orang.
Dari definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan tipe eksplorasi dan menggunakan metode analisis penerimaan atau reception analysis yang bertujuan untuk mengetahui resepsi khalayak ibu-ibu rumah tangga terhadap program acara reality show ”Master Cheff” di Indosiar. Dalam reception analysis perlu diperhatikan bahwa televisi mengirimkan pesan melalui kode-kode yang disampaikan melalui audio visual dan pemirsa dapat menerima dan menganalisa pesan-pesan tersebut. Reception analysis meliputi persepsi, pemikiran, preferensi dan interprestasi. Persepsi adalah pengalaman tentang obyek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Pemikiran didefinisikan sebagai perbuatan individu dalam menimbang-nimbang, menguaraikan, menghubung-hubungkan sampai akhirnya mengambil keputusan. Preferensi yaitu semua ungkapan emosi individu yang menyertai pemikiran persepsi ketika menerima pesan, apakah pendengar menyukai siaran penyiar tersebut di radio atau tidak. Interprestasi merupakan sebuah istilah untuk menjelaskan bagaimana kita memahami pengalaman.
4.2 Setting Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada ibu-ibu rumah tangga di desa Candi, kecamatan Candi-Sidoarjo yang menjadi pemirsa program acara reality show ”Master Cheff” di Indosiar. Ada beberapa alasan dipilihnya lokasi tersebut adalah berdasarkan pengamatan sementara peneliti bahwa di daerah tersebut sangat banyak ibu-ibu rumah tangga menyaksikan acara tersebut, sehingga dapat disimpulkan bahwa antusiasme ibu-ibu rumah tangga sebagi khalayak begitu besar.
4.3 Populasi dan Teknik Pemilihan Informan/Narasumber
Dalam penelitian kali ini yang menjadi populasi adalah seluruh ibu-ibu rumah tangga di Candi Sidoarjo. Namun, tidak semua populasi akan dijadikan sampel untuk menggali data. Ada beberapa alasan mengapa hal tersebut dilakukan, diantaranya:
1. metode pengambilan informan yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampel (sampel bersyarat) yang mana informan tersebut kita tentukan yang disesuaikan dengan tema penlitian.
2. tentunya penelitian ini mengkhususkan pada beberapa karakteristik informan/narasumbernya yakni individu yang tercatat sebagai penonton acara reality show Master Chef Indosiar
3. jumlah dari informan juga dibatasi sebanya 10 orang. Hal ini sesuai dengan teori yang disampaikan oleh beberapa tokoh penelitian komunikasi bahwa informan dalam sebuah penelitian berjenis kualitatif adalah 10 sampai 15 orang saja.
4.4 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam suatu penelitian ditentukan jenis penelitiannya. Metode pengumpulan data dengan observasi, FGD, wawancara mendalam, dan sudi kasus (Wimmer, 2000: 110; Sendjaya, 1997: 32 dalam Teknik Praktis Riset Komunikasi, Kriyantono 2008: 93) adalah teknik yang lazim dpergunakan oleh seorang peneliti kualitatif.
Data primer diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam (teknik pengumpulan data yang didasarkan pada percakapan secara intensif dengan suatu tujuan tertentu) dengan informan untuk menggali informasi-informasi penting dan tajam seputar tema penlitian yang dipandu dengan sebuah guide interview sebagai bahan dasar wawancara, akan tetapi dalam aktualisasinya dapat berkembang sejalan dengan wawancara yang berlangsung. Karena salah satu keuntungan dalam wawancara medalam adalah kita lebih mudah merekam hasil wawancara sehingga memudahkan kita menganalisisny, sekaligus dalam wawancara mendalam kita dalpat melakukan observasi langsung sebagai pembantu dan pelengkap pengumpulan data
4.5 Teknik Analisis Data
Data yang didapat dari hasil diskusi (catatan dan rekaman) kemudian ditranskrip berurutan sesuai dengan ringkasan diskusi agar tidak ada data yang terlewatkan. Analisis data hasil diskusi harus memperhatikan lima faktor sebagai berikut :
1. Menentukan istilah yang digunakan beserta maknanya, kemudian mengelompokkan konsep yang mirip.
2. Menentukan konteks kalimat dengan melihat stimuli/pemicunya dan kemudian diinterpretasi sesuai konteks tersebut.
3. Memperhatikan alur diskusi dan mencatat perubahan serta posisi partisipan setelah berinteraksi dengan partisipan lain.
4. Lebih memperhatikan respon yang spesifik dan sesuai pengalaman daripada respon yang kurang jelas dan terlalu teoritis.
5. Jeli dalam mencari ide yang tersirat sepanjang diskusi.
Data yang dilaporkan haruslah deskriptif dan menyajikan pemaknaan data tersebut. Hal ini berbeda dengan hanya membuat ringkasan data. Kemudian menurut Krueger dalam Focus groups: A Practical Guide for Applied Research, data dilaporkan dalam tiga tingkatan:
1. Raw data, yaitu data mentah yang sesuai pernyataan partisipan dalam diskusi dan dikategorisasi sesuai tingkatan tema.
2. Descriptive statements, yaitu rangkuman komentar partisipan yang disusun sesuai tingkatan tema.
3. Interpretation, yaitu penafsiran yang dibuat dengan proses deskriptif dengan memberikan pemaknaan pada data. Saat pemberian makna secara deskriptif, maka harus merefleksikan bias peneliti itu sendiri.
Pada dasarnya analisis data merupakan penyusunan data sesuai dengan tema dan kategori untuk mendapatkan jawaban atas perumusan masalah. Oleh karena itu, data yang dihasilkan haruslah seactual dan sedalam mungkin, jika dimungkinkan menggali data sebanyak-banyaknya untuk mempertajam dalam proses penganalisisan. Hal tersebut merupakan cirri khas dari penelitian kualitatif bahwa realita dan data sebagai fakta di lapangan tidaklah stagnan, akan tetapi dinamis sesuai dengan perkembangan di lapangan.
BAB V
DAFTAR PUSTAKA
  1. Buku
Bungin, Burhan. 2001 .Metodelogi Penelitian Sosial: Format-format kuantitatif dan kualitatif. Surabaya: Airlangga University Press.
Cangara, Hafied. 2003. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Effendy, Onong Uchajana. 2007. Ilmu Komunikasi, Teori dan Praktek. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Kriyantono, Rahmat. 2008. Teknik Praktis Riset Komunikasif, Cetakan ketiga. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Kuswandi, Wawan. 1996. Komunikasi Massa- Sebuah Analisis Isi Media Televisi. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Littlejohn, Stephen W. 1999. Theories Of Human Communication. London: Wadsworth Publishing Company. Seventh Edition.
Moleong, Lexy. 2005. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Mulyana, Deddy. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosda karya. Cetakan Kedua.
Nurudin. 2003. Komunikasi Massa. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Nurudin. 2008. Sistem Komunikasi Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Pawito. 2007. Penelitian Komunikasi Kualitatif. Yogyakarta: LkiS Pelangi Aksara
Rahmat, Jalaluddin. 2004. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.